Rindu itu Telah Menguap

Seharian ini perempuan itu mendengarkan lagu yang sama dari penyanyi yang sama. Satu lagu terlewati, masuk lagu kedua, dan ternyata dia masih enggan untuk berpindah ke artis yang lain. Kenapa? apakah karena suara penyanyi itu yang sangat renyah, semakin di dengari semakin larut dia dalam nada melodi yang sendu, menyejukkan padahal hari kian panas. Atau karena memang perempuan itu sedang dilanda kebosanan. Entahlah, tapi sedari tadi kulihat dia menghela nafas. Ingin ku dekati tapi urung aku melakukannya, rasanya hanya dengan melihat sorot matanyanya yang menatap jauh menembus layar komputer dan dinding rumah lalu berhenti pada sebuah perkampungan sederhana nan sejuk. Sampai di sini aku dapat merasakan apa yang ada di benaknya, keinginannya untuk tinggal di kampung itu amat besar. Perempuan itu memang tidak di lahirkan di sana, tapi sejak pertama kali kakinya menginjak tanah di kampung tersebut hatinya telahpun terpaut pada udara yang dingin menggigit, pada pemandangan hijau nan segar dengan aroma daun teh yang semerbak dan dengan panas matahari yang selalu malu-malu menerobos puluhan pohon pinus yang berjejer rapi di pinggir kampung. Banyak kenangan sudah tercatat di sana, dari perkenalannya dengan penduduk kampung, menyambungkan kembali jalinan silaturahmi dengan saudaranya yang hampir putus hingga kisah percintaannya yang terlerai karena beda tujuan. Semua terekam manis dan menjadi gumpalan rindu yang berpendar-pendar di ruang hatinya.

Setelah bertahun perempuan itu pergi meninggalkan kampung itu akhirnya kesempatan untuk kesana terbuka luas. Walaupun keadaannya tidak lagi sama seperti dulu. Ya, dulu dia masih sendiri, kini dia sudah memiliki buah hati. Tapi rindu tetaplah rindu. Saudara tetaplah saudara. Langkah kaki ringan menapaki kembali perkampungan yang kini banyak berubah. Pohon-pohon teh itu tidak lagi di rawat oleh pemiliknya, terbiar seperti semak belukar. Pabrik yang dulu menjadi nafas bagi 90persen penduduknya kini hanyalah sebuah bangunan yang di huni oleh beberapa karyawan saja. Sebagian penduduk memilih bekerja di kota karena kampung tersebut hanya didominasi oleh teh dan kopi. Yang masih setia adalah kabut pagi yang turun dan melanda rumah-rumah penduduk, yang jika kamu bicara maka akan keluar asap kabut dari mulutmu. Matahari yang masih malu-malu menyeruak di antara pohon pinus dan airnya yang tidak pernah terasa hangat walau tengah hari bolong. Alam masih bersahabat dan penduduk masih hangat menyapa. Perempuan itu menghirup udara sepuasnya, memenuhi rongga dadanya dengan hawa dingin yang menyusup hingga ke tulang. Menapaki kembali pinggiran kebun teh yang telah berubah menjadi semak belukar. Dalam hati dia berharap, semoga suatu hari nanti dia dapat tinggal di kampung ini, menghabiskan sisa hidup berteman dengan udara dingin nan menyejukkan ini. Semoga
Tag : iseng
4 Komentar untuk "Rindu itu Telah Menguap"

org desa selalu bermimpi ingin ke kota. Pdhl kl udah merasakan kota, rasanya engen di desa, ya :)

assalamualaikum, marhaban ya ramadhan, senyum sapa dari saya denny aby untuk para sobat blogger di bulan yang suci dan penuh berkah ini....visit balik ya sob..puisinya indah sekali saya sangat suka itu.

Balik ndeso mbangun ndeso :D

Impian banyak orang, menghabiskan masa di tempat yang sejuk, tenang, damai. setelah kelelahan di tanah rantau :)

Back To Top