5 Resiko Operasi Cesar Pada Ibu Dan Bayi


Beberapa waktu lalu media sosial dibikin ribut soal melahirkan secara cesar. Dari yang saya baca keributan berawal dari ceramah seorang ustadz. Beliau mengatakan perempuan yang melahirkan secara cesar akibat terkena gangguan jin. Disini saya tidak ingin menyebutkan siapa nama ustadz tersebut karena selain tidak ingin memancing keributan saya tidak memiliki cukup ilmu untuk membahasnya dari sisi agama.

Akan tetapi secara alamiahnya perempuan memang diberi kekuatan lebih daripada lelaki. Itulah mengapa Allah memberi kepercayaan kepada perempuan untuk mengandung dan menyusui. Sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh lelaki. Dilihat dari sisi kesabaran ternyata perempuan memiliki kesabaran lebih dari lelaki tidak hanya itu perasaan perempuan juga lebih peka. Maka tidak heran jika anak kebanyakan lebih dekat dengan ibu daripada ayahnya.

Mungkin inilah yang membuat banyak perasaan perempuan yang terluka kala ada yang mempersoalkan tentang proses melahirkan secara cesar. Kebanyakan dari mereka adalah yang harus terpaksa menempuh jalan cesar. Namun, tahukah Anda bahwa fakta membuktikan bahwa belakangan ini persalinan secara cesar lebih menjadi pilihan dengan alasan:

  • Tidak merasa sakit seperti saat proses melahirkan normal.
  • Dapat menentukan waktu kelahiran bayi.
  • Tidak ingin organ vitalnya menjadi rusak karena robek saat melahirkan.

Melihat dari sisi ini bolehlah kiranya para ibu menahan marahnya dulu. Karena fenomena yang terjadi memang karena beberapa alasan di atas maka persalinan cesar menjadi pilihan. Lalu amankan melahirkan secara cesar? siapa saja yang boleh melahirkan secara cesar dan bagaimana dampak selanjutnya setelah melahirkan. Mari kita ulas bersama.

Melahirkan secara cesar akan melalui proses seperti ini: bayi dikeluarkan melalui sayatan dari perut, sebelumnya dokter akan memberikan pembiusan dari pinggang ke bawah jadi ibu tidak kehilangan kesadaran secara total hanya organ tubuh yang dibius saja mati rasa. Jadi Anda dapat melihat proses persalinan dari mulai penyayatan hingga bayi keluar kemudian dokter akan menjahit bekas sayatan tersebut. Begitulah kira-kira proses melahirkan secara cesar.

Apakah melahirkan secara cesar aman untuk kesehatan ibu?
Secara umum melahirkan secara cesar tergolong aman namun bukan berarti tidak beresiko. Seperti halnya operasi besar lainnya operasi cesar pun berpotensi menimbulkan komplikasi baik dalam jangka waktu dekat maupun panjang. Beberapa resiko yang bisa terjadi akibat operasi cesar yaitu:

1. Sakit setelah operasi. Ini adalah resiko awal yang pasti dialami oleh mereka yang telah melakukan operasi cesar. Berawal dari rasa sakit akibat bius yang mulai hilang sampai sakit pada tulang belakang dan pinggang.

2. Luka bekas sayatan terinfeksi. Biasanya infeksi bada saluran kemih dan dinding rahim kerap terjadi selepas operasi.

3. Terjadi pembekuan darah di kaki dan paru-paru serta kehilangan banyak darah ketika operasi akibatnya pasien akan mengalami rasa mual, sakit kepala dan muntah.

4. Bekas luka sayatan yang sulit hilang. Panjang sayatan biasanya sekitar 10 - 15 cm dan butuh waktu lama untuk menghilangkannya. Butuh waktu beberapa tahun namun bekas ini sayatan ini tidak akan kembali seperti kulit semula hanya tersamarkan. Selain itu aktifitas yang dilakukan selepas cesar bisa beresiko luka sayatan terbuka kembali.

5. Resiko jangka panjang yaitu leher rahim akan terhalang akibat tumbuhnya plasenta dalam rahim ini disebut plasenta previa. Ada juga plasenta akreta, increta dan percreta yang dapat menyebabkan pendarahan hebat.


Apakah bayi yang dilahirkan secara cesar juga beresiko cedera?
Tidak ada yang menjamin hal ini tidak terjadi. Faktanya bayi yang dilahirkan secara secar juga bisa mengalami resiko cedera apalagi jika dikeluarkan sebelum usianya mencapai 39 minggu. Beberapa resiko yang bisa terjadi yaitu gangguan pernafasan. Ditandai dengan nafas berbunyi, ngorok dan rentan terhadap virus influenza.

Untuk menghindari hal ini pihak medis menyarankan ibu dan bayi untuk melakukan perawatan intensif selama 3 hari dan rutin melakukan medical check up selepas bersalin. Untuk menghindari resiko bekas luka terbuka ibu yang baru melakukan operasi cesar harus istirahat setidaknya 3 bulan hingga 6 bulan. Apalagi jika di temui beberapa kondisi yang rentan seperti:

  • Usia kehamilan tidak cukup
  • Ibu memiliki riwayat penyakit lain
  • Terdapat tanda-tanda komplikasi selepas operasi.
Kondisi seperti apa yang membolehkan operasi cesar dilakukan?
Fenomena yang terjadi saat ini adalah beberapa perempuan tidak ingin melakukan persalinan secara normal karena sakit, lama menunggu bukaan lahir, dan tidak ingin organ vitalnya robek. Maka jalur cesar akhirnya ditempuh. Sebenarnya operasi cesar tetap dibolehkan dengan melihat beberapa kondisi seperti: 

  • Ibu memiliki riwayat penyakit misalnya jantung, asma dan penyakit kronik lainnya yang bisa memicu kematian saat proses melahirkan berlangsung.
  • Plasenta menghalangi jalan lahir sehingga bayi tidak bisa keluar.
  • Ukuran bayi terlalu besar sementara ibu memiliki panggul kecil sehingga menyulitkan jalan keluar bayi.
  • Posisi kepala bayi masih di atas meski sudah cukup usia atau sungsang.
  • Bayi menderita kelainan misalnya spina bifida atau cacat lahir.
  • Suplai darah ke plasenta menurut sebelum proses melahirkan berlangsung. Resikonya bayi bisa lahir dengan tubuh kecil.
  • Terdapat luka terbuka yang disebabkan oleh infeksi herpes genital yang aktif.
  • Bayi kembar siam.

Proses melahirkan baik secar maupun normal semuanya memiliki resiko tergantung invidu masing-masing. Namun  jika boleh saya sarankan tempuhlah proses melahirkan secara cesar bila memang terjadi hal-hal seperti yang saya sebut di atas dan tentu saja sesuai dengan saran dokter. Jika beresiko untuk normal maka tempuhlah jalan cesar namun jika kondisi ibu dan bayi sehat sebaiknya lakukan proses persalinan secara normal untuk memperkecil resiko penyakit di kemudian hari.

Tag : kesehatan
0 Komentar untuk "5 Resiko Operasi Cesar Pada Ibu Dan Bayi"
Back To Top