Bersalin Secara Normal Tidak Seperti yang Dibayangkan

Melahirkan secara normal tidak seperti yang dibayangkan

Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang masih memberikan kesempatan pada saya untuk melewatkan hari-hari bersama keluarga tercinta. Agak sentimentil yang open storynya. Yup, kadang sangkin sibuknya kita mengejar dunia, kita suka lupa bahwa Allah sudah memberikan apa yang kita butuhkan. 

Kali ini saya ingin berbagi cerita mengenai proses melahirkan putera kami. Habib, itu nama yang kami sematkan untuknya mengalami proses yang lumayan panjang. Kadang saya berfikir, jika saja saya sendirian menghadapi proses persalinan hingga pasca melahirkan bukan tidak mungkin saya akan terserang baby blues atau bisa jadi lebih dari itu. 

Sebab ketika melahirkan anak pertama saya mengalaminya, meskipun tidak parah karena saat itu saya didampingi oleh ibu dan keluarga suami. Alhamdulillah berkat pendampingan itu saya lebih cepat keluar dari syndrom baby blues tersebut. Kini ketika melahirkan Habib, saya mengalami proses "nyakiti" yang lumayan panjang. Tidak kurang dari 12 jam saya menahan sakit yang luar biasa jelang melahirkan. Waktu yang amat panjang saya rasakan, mengingat ketika melahirkan Azam saya nyakiti selama 4 jam saja. 

Bersalin secara normal tidak seperti yang dikhawatirkan.

Ceritanya berawal pada hari Rabu pagi jam 08:00 WIB ketuban saya mengalir keluar namun saya masih melanjutkan aktifitas seperti biasa. Sampai pukul 20:00 WIB malam air ketuban tetap meleleh ketika saya bergerak. Kemudian saya memutuskan untuk pergi ke Rumah Sakit didampingi oleh suami. Perawat bilang saya tidak dibolehkan untuk pulang dan harus segera di rawat mengingat air ketuban sudah keluar sejak pagi walaupun masih pembukaan satu. 

Saya akur dengan keputusan pihak rumah sakit dan menginaplah kami dengan memboyong anak pertama, suami serta ibu saya. Induksi dilakukan satu kali lewat kemaluan dan rasanya aduhai sakitnya. Namun saya tidak terlalu kaget sebab ketika melahirkan anak pertama saya juga mendapat induksi sebanyak dua kali. 

Efek dari induksi akan hilang setelah enam jam itu berarti pukul 2 dini hari. Dan ternyata dedek bayi belum mau keluar karena masih bukaan 3. Saya mulai khawatir dan banyak-banyak berdo'a supaya jalan lahirnya cepat terbuka. Ternyata Allah menguji saya lebih berat ketimbang proses lahiran pertama dulu. Hingga pukul 07.00 pembukaan jalan lahir masih 7 perlu 3 lagi untuk lengkap. 
Sementara kondisi saya sudah melemah akibat menahan sakit semalaman ditambah lagi saya tidak tidur dan makan. 

Walhasil saya menyerah dan ingin lahiran secara cesar saja. Ajaibnya perawat tidak mengijinkan, mereka malah menyemangati saya untuk lahiran normal dengan alasan kondisi detak jantung bayi dalam keadaan baik dan ketika bersalin dulu saya normal. Suster bilang " Ibu dulu lahiran anak pertama normal, kali ini pasti bisa normal lagi. Jangan khawatir ya" 

Kesabaran dan kekuatan dari kata-kata perawat inilah yang menyuntikkan semangat saya untuk melanjutkan perjuangan melahirkan bayi secara normal. Saya tetap melanjutkan bait do'a-do'a didampingi ibu saya yang terus berzikir sambil memegang perut saya. Alhamdulillah 30 menit setelah itu bukaan lahir saya lengkap dan Habib keluar dengan selamat.

Keuntungan yang saya rasakan dari lahiran normal adalah
  1. Prosesnya penyembuhan tidak lama.
  2. Rasa sakit selepas melahirkan berangsur hilang dan tidak butuh waktu lama.
  3. Perawatan seperti minum jamu dll tidak terhalang selepas bersalin.
  4. Hanya perlu kontrol sekali pasca melahirkan.
  5. Efek jangka panjang dari lahiran normal bisa dibilang tidak ada.
Perawatan pasca bersalin segera dilakukan oleh ibu saya yang memang sengaja datang dari kampung untuk merawat saya dan cucunya. Ramuan rempah kunyit, beras kencur, jahe, temulawak, gula merah dan asam jawa menjadi langganan saya setiap hari sampai 40 hari. Selain itu makanan yang saya konsumsi setiap hari dijaga ketat oleh beliau. 

Adapun makanan yang baik dikonsumsi oleh ibu selepas bersalin adalah:
  • Sayuran hijau seperti daun katuk, bayam, brokoli, sawi dll.
  • Buah-buahan terutama yang banyak mengandung air
  • Protein nabati dari tahu, tempe dan susu kedelai.
  • Protein hewani dari ikan dll.
  • Serta banyak minum air putih.
Untuk menambah jumlah ASI mengingat saya ingin bayi kedua saya mendapat ASI full seperti abangnya saya juga menambah konsumsi vitamin pelancar ASI dari ekstrak daun katuk dan fenugreek yang dipercaya dapat membantu menambah jumlah produksi ASI.

Dengan rutin menjalankan latihan penyembuhan selepas bersalin, Insha Allah rasa sakit dan letih dapat segera di atasi. Ternyata lahiran normal kedua kali tidak seperti yang saya khawatirkan selama ini. Semoga para calon ibu di luar sana juga demikian ya.

0 Komentar untuk "Bersalin Secara Normal Tidak Seperti yang Dibayangkan"
Back To Top