Palang Merah dan Bulan Sabit Merah

Kebanyakan orang pasti sudah mengetahui bahwa lambang Palang Merah berhubungan dengan kemanusiaan. Memang benar, salah satu fungsi lambang ini adalah memberikan perlindungan berdasarkan Hukum Perikemanusiaan Internasional  kepada seseorang tanpa terkecuali.

Palang Merah dan Bulan sabit merah adalah lambang yang sama-sama berhubungan dengan kemanusiaan. Akan tetapi pernah terjadi konflik mengenai dua tanda ini, Palang Merah yang berlatarkan warna putih adalah karena jasa seorang lelaki bernama Jean Henry Dunant asal Swiss. Melalui tulisannya yang berjudul A Memory of Solferino, Jean membuka mata dunia tentang arti kemanusiaan tanpa memandang suku, negara, ras ataupun agama.


Buku yang ditulis oleh Jean ini menarik perhatian pemerintah Swiss dan mengundang Jean untuk menghadiri pertemuan yang akhirnya dikenal dengan Komite Internasional Palang Merah. Kemudian pada tanggal 22 Agustus 1864, terselenggaralah konferensi tingkat internasional yang dihadiri 12 kepala negara di Jenewa dan menghasilkan Konvensi Jenewa I.

Pada Konvensi ini tanda Palang Merah dipilih mengingat jasa pemerintah Swiss yang telah berbuat banyak demi terbentuknya organisasi kemanusiaan pertama di dunia. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa lambang negara Swiss adalah sebuah tanda palang berwarna merah yang dilukis di atas latar putih.

Lambang ini terus digunakan hingga pada tahun 1876 negara islam terutama Turki merasa keberatan dengan pemakaian tanda “palang” yang menurut mereka identik dengan kekristenan. Mereka mengusulkan lambang Bulan Sabit Merah sebagai lambang kemanusiaan. Hal ini menimbulkan konflik bagi negara-negara di dunia. Yang mana jika tanda Palang Merah lebih merujuk pada tanda kekristenan, sebaliknya tanda Bulan Sabit Merah lebih mendekati pada lambang keislaman.

Untuk mencegah agar konflik ini tidak semakin melebar, pada tahun 1999 diadakan konferensi Palang Merah dan Bulan Sabit Merah. Setelah melalui masa penantian yang cukup lama, pada tahun 2005, konferensi yang bertaraf internasional ini kemudian memutuskan lambang baru yaitu Kristal Merah sebagai lambang yang berhubungan dengan kemanusiaan.Akan tetapi hingga saat ini belum banyak negara-negara yang menggunakan lambang Kristal Merah,hal ini kemungkinan karena lambang Kristal Merah belum begitu di populerkan penggunaannya.

Note: A Memory of Solferino ditulis oleh Jean berdasarkan pengalamannya menjadi relawan pada saat perang antara Austria dengan Prancis-Inggris.
Tag : artikel
16 Komentar untuk "Palang Merah dan Bulan Sabit Merah"

mampir bntar ke tmpt teh dwina ntuk ngilangin capek.
heheh..

gambar kristalnya seperti apa ?

@glugu: ikutan ke ajo ah..

@alfi: makasih ya mau mampir...

@mas arya: lambang kristal merah itu seperti diamond yang berwarna merah mas, emang sengaja saya ga nampilin gambar sih..

Kalo sy pribadi emang lbh suka dgn lambang kristal,sebab tdk identik dgn lambang umat agama lain.Namun lambang ini kurang populer shgga jarang bgt negara yg menggunakan nya.Mungkin perlu ada nya kampanye untk mempromosikan lambang tsb

Salam
Berkunjung dan silaturahmi sekalian menambah ilmu dan pertemanan kawan...
Nice info yg saya dapatkan dari artikel ini kawan..

Salam kawan

jadi inget jaman smp, saya ikut PMR, belajar sejarah ini dan harus hapal sebelum pelantikan...

Koq belum pernah denger yg namanya kristal merah yah? apakah Indonesia udh ikutan ?? ayo lah...kalau mau bantu orang lupakan dulu dia orang apa? agama apa? suku apa?....menolong aja dulu yah nomor satu.........

Kalausudah berbicara soal simbol/lambang memang sangat riskan, diperlukan kesepakatan bersama agar tidak timbul permasalahan dikemudian hari...

Saya pun juga kurang familiar dengan lambang Kristal Merah he.he
Terimakasih

sudah lama aku tak mengunjungi palmer untuk donor darah..hehe

wah, tumben serius nih artikelnya.mulainiru si abang ya.hehehe

lambang kristal merah, blm mendunia ya..aku jg blom tau..hihi..

past paling depan kok gag bisa dikomen, yg tentang oseng2 itu..

Nice artikel. Jadi tambah2 pengetahuan :-)

Back To Top